Reading
Add Comment
![]() |
| dok.net |
Semua terasa menyengat, panas dan gersang. Aku menyudut di salah satu dinding yang begitu panjang. Beberapa hari sebelumnya, seseorang marah kepadaku, karena aku acuh. Dan karena aku malas. Entah, mungkin saja semua spesies setan berkerumun di tubuhku. Sehingga begitu berat aku melangkah atau sekedar mengangguk berkata iya kepada si dia.
Pusing sekali aku ini, beberapa orang yang lahir di bulan September telah pulang dengan tenang. Sedangkan aku belum kelar segala urusan. Cipratan mentari di siang itu membuat aku berpikir semakin rumit. Rasanya, aku ingin sekali bertamasya ke dada Nabi, aku ingin membangun sebuah maestro di tubuhku sendiri atas segala keteguhan Nabi di dalam tubuhnya.
Tapi, tak ada guna. Aku tetaplah aku yang sepi dan terus-menerus menuduh diriku sendiri sebagai orang salah, mungkin saja di langit namaku bukan nama yang ditetapkan orangtua sejak aku lahir. Atau mungkin saja, aku adalah seorang yang pernah hidup di masa lalu, sehingga untuk menjalani hari ini aku harus menghabiskan banyak waktu untuk berdialog dengan cangkir. Atau bahkan rohku tertukar dengan makhluk halus yang idiot. Ih amit-amit! Jangan sampai.
Kembali ke siang itu. Aku dan bayanganku saling sapa di lantai. Jeans robekku terkulai ke dasar sampai bersentuhan dengan bayangan. Ku lihat si dia duduk sambil merokok, punggungnya sangat kurus. Ah tak usah kuceritakan. Hari itu, aku sangat resah, akankah aku mendapat sesuatu yang baik setelah ini? Apakah semua orang bilang aku sangat acuh dan sangat sulit untuk membaur dengan orang lain? Benarkah itu? Bayanganku tidak menjawab apa-apa. Pada akhirnya, aku tersenyum sendiri.
Seusai itu, aku berpamitan pada segala keadaan.
Bandung, 7 Februari 2018
Puisi
0 komentar:
Posting Komentar