KEPADA GARIS MATI



Sudah berbulan-bulan lalu aku menggeleng-gelengkan​ kepala ke jam dinding, aku adalah suara detik yang akan sesegera mungkin meledak pada tempo di mana segala sabar menyerah pada tuannya. Aku menunggu kakiku tumbuh roda untuk bisa secepat kilat sampai pada tujuan.

Sempat aku berleha-leha sedang mereka meletup-letup dan menyeret yang lain pada garis mati dengan umpatan yang mengadaptasi dari iblis sampai kepada sel-sel darah Jahanam namun 'si yang lain itu' dungu! Aku telah menganjing-anjing segala apa yang telah aku lakukan, yaitu menunggu. Sampai aku rela kepalaku​ sendiri kujadikan jarum jam dan menimbulkan suara detik. Tik tok tik tok... Begitu seterusnya.

Kini saatnya, ketika program itu menari-nari dijidatku aku berasa diburu-buru, aku lari terbirit-birit, kemudian terhenti karena mereka masih diskusi tentang ideologi. Lalu 'yang lain' memintal aku dengan gemas, 'ini kapan meledak?' sambil tersipu malu karena dia mengerti lelahku, 'belum saatnya' kataku, kemudian yang lain itu bersedih sambil gemas dan kesal.

Bagaimana dengan aku? Garis Mati terus membombardir segala resah, sedang waktu belum sanggup berpamitan dengan caraku. Tangan dan mataku sudah renta, sedang segala cara telah lapuk dari kata target, dan aku di sini diminta segera meledak. Padahal mereka belum sama sekali siap dengan segala keadaan. Mau tidak mau, saat ini mereka sedang mempelajari diriku sendiri, melalui kepalaku.

2017

0 komentar:

Posting Komentar

My Instagram