Reading
Add Comment
![]() |
| Dok. Pribadi (Foto ini diambil ketika bersandar di bawah jendela perpustakaan Ajip Rosidi, saat matahari sedang terik-teriknya) |
Setelah kiranya aku berjalan menanjak, menelusuri jalanan rapuh dan terjal.
Hidup menjadi tidak tentu. Akulah segala muara kebodohan. Tidak ada sesuatu yang bisa kujajaki bunga-bunga segar di perkebunan bunga melati pun tak bisa kurapikan daun-daun di tubuh pohon oak untuk menutupi celah-celah cahaya matahari siang itu.
Hari menjadi tidak tentu. Akulah segala muara keresahan. Perempuan dekil yang merapuh di waktu-waktu menunggu. Tidak ada satu waktu pun yang bisa kuhentikan, untuk menghentikan langkah dia ketika dia berjalan melewatiku. Jika bisa, aku ingin melihat dia dari dekat, kulihat dia lekat-lekat, tanpa dia tahu bahwa waktu telah kuhentikan.
Aku ingin menjelma segala, ketika rasaku meletup-letup, biarkan aku menjelma udara, biar akulah yang mengelilingi dia di mana dia berada, kemana pun dia pergi. Meski tak terlihat, barangkali akulah yang merangkul dia dengan lembut dan tanpa suara yang mengganggu telinga dia.
Tapi, aku hanya perempuan dekil, yang hanya bisa melihat dari jauh, sekilas pun, meski itu punggungnya atau kerah bajunya yang aku lihat, aku cukup bahagia.
Aku memang tidak punya perkebunan bunga melati untuk membuat harum tubuhku, untuk menjadikan aku perempuan indah dan aku juga tidak bisa seperti pohon oak yang mampu membuat orang-orang menjadi teduh ketika melihatku.
Tapi, aku hanya perempuan dekil yang memiliki muara kebodohan dan keresahan. Tidak ada yang bisa terkagum-kagum atas kebodohan seseorang dan tidak ada pula yang meniru resah-resah yang aku rasakan. Aku bukan perempuan yang menawan dan rupawan.
Atas segala kerendahan ini, aku hanya bisa seperti Hawa yang bersabar menanti pertemuan dengan Adam di Jabal Rahmah. Aku hanya bisa seperti Ratu Balqis yang berkata "Aku pasrahkan diriku bersama Sulaiman kepada Allah Tuhan semesta alam." Aku hanya bisa seperti Zulaikha yang mengejar cinta Yusuf dengan mendekati Allah yang Esa. Aku hanya bisa seperti Fathimah yang diam-diam mencintai Ali, dan dipertemukan Allah di pernikahan yang suci dan agung.
Atau jika segalanya belum terbalas, biarkan aku seperti Rabiah Al-Adawiyah yang terus-menerus mencintai Allah di segala denyut nadi dan hembusan napasnya. Aku memang tidak seharum dan seindah melati; aku memang tidak sesejuk dan seteduh pohon oak.
Bandung, April 2018
Puisi
0 komentar:
Posting Komentar