Embun

Dok.net

Yang bersua setelah bangun dari tidur adalah embun. Dia berdiam diri di seluruh lapisan kulit bumi, menyirami pori-pori pohon dengan lembut dan dingin. Tubuhmu masih terkulai di kasur, melihat langit-langit dan membayangkan dua perempuan. Siapalah itu, aku tidak tahu.

Fasih bibirmu menyebut nama-Nya, di sela-sela harap yang mulai merembes pada keentahan. Berselimutkan fajar dan kesintingan, perlahan-lahan kau menyunyi. Membiarkan ini melaju sebagaimana air mengalir. Meski kau menampik dan bersikap acuh, diam-diam kau meresapi. Seperti kopi, yang mula-mula pahit tapi, candu.

Ziarahi kau. Aku menziarahi hati kau setiap saat, seperti embun yang menziarahi bumi setiap pagi. Namun lagi-lagi aku juga terkulai lemah di kasur, berselimutkan fajar dan kesintingan, menatap langit-langit kamar sambil mendekap erat sebuah nama yang belum kutahu akhirnya seperti apa. Akankah seperti embun yang menyejukkan setiap pagi dan hilang di siang hari?

Malas bangun, April 2018
Buat seseorang.

0 komentar:

Posting Komentar

My Instagram