Bercerita Kepada Laut

Dok.net


Tiba-tiba hatiku bersedih, tidak tahu kenapa. Aku punya firasat tidak enak. Aku mengadu kepada karang yang teguh, membisikkan beberapa patah kata kepada dia tapi, karang itu tetap membisu.

Biarkanlah aku duduki badanmu yang kasar. Izinkan aku bercerita kepada laut, sampai larut malam menjajaki pasar segala cinta. Tubuhku layung, memayungi belulang yang membalut jantung. Jantung yang berdebar kencang setiap ku bertemu, melihat, atau sekedar membaca dan mendengar namanya.

Semoga telinga laut bersedia mendengarkan ceritaku sampai mulutku berbusa. Aku mengayun-ayunkan kakiku ke udara. Bercerita tentang kenapa aku lelap dalam kehampaan, menyendiri tanpa kepastian, selama bertahun-tahun membiarkan tubuhku digerogoti waktu.

Ada beberapa alasan kenapa aku ridha dalam kesendirian. Karena aku ingin mengalami ini satu kali saja dalam hidupku. Lalu, Tuhan mengaminiku. Sehingga selama sendiri, Tuhan selalu menemaniku. Pada saatnya jantungku berdebar, saat itulah kenapa aku memantapkan aku kepada dia.

Sesekali laut mengayunkan ombak dengan lembut, mungkin dirinya sedang mengangguk dan sedikit memahamiku. Angin siang itu menembus lubang-lubang karang dan menghembuskan suara-suara merdu yang seakan-akan mengajakku pada angan-angan surgawi.

Namun, ketika kudapati diriku pasrah dan mengikhlaskan hatiku kepada Tuhan. Aku sering gelisah dan dihantui oleh perasaan-perasaan aneh. Aku tidak mau terluka. Aku tidak mau terluka. Aku tidak mau terluka. Penantian yang sangat panjang ini harus berakhir seperti Adam dan Hawa.

Aku terkekeh, betapa egoisnya diriku ini. Lalu laut pun menggulung-gulungkan air bertubi-tubi, seperti dirinya juga terkekeh mendengarku. Burung-burung bermunculan dari arah barat, menari-nari di bawah terik matahari.

Tapi, doaku tetap. Kepada dia itu, tetap. Aku tidak akan hengkang. Terus kenapa aku selalu diam tatkala bertemu di suatu waktu? Dalam puisiku yang berjudul Jenuh, aku menulis Haruskah aku mengucap 'hai' dan meraba-raba paha lalu ke pundak? Pahamilah aku lewat cerita ini, begitu aku sampaikan kepada laut.

Aku tidak berhenti bercerita dan satu hal yang membuat aku tiba-tiba bersedih adalah bagaimana apabila dia sudah melabuhkan cintanya kepada wanita lain. Begitu. Malam seketika menyerbu, angin laut sangat kencang, ombak seperti marah dan ikut-ikutan bersedih, matahari tenggelam sambil menangis.

Tapi, aku berpikir bahwa tidak ada cinta yang tidak terluka atau apakah caraku mencintai dia terlalu purba? Seketika malam itu, tiba-tiba hening dan semakin gelap. Debur ombak pun semakin melembut. Biarkan aku menyelam di dasar laut hatimu. Biarkan aku tenggelam.

Bandung, 13 Mei 2018

0 komentar:

Posting Komentar

My Instagram