Reading
Add Comment
![]() |
| Dok.net |
Aku mendengar pagi berkeluh kesah, aku mengatupkan kedua mataku pelan-pelan, sampai akhirnya gelap itu betul-betul gelap. Kepalaku dielus-elus embun, hingga ku merasa pergi jauh ke dasar hatimu yang remuk rengsa.
Kelu lidahku tergulung ombak air liur, hangit. Hanyut dalam tenggorokan yang sempit dan pengap. Aku digiring menuju lambung yang bau busuk. Bau sekali. Mengapa tiba-tiba akalku bisa mengingat setelah bau dari segala bau tercium dalam-dalam?
Pagi jera, waktu di mana segala sesuatu teringat kembali. Ketika akal mengingat, hati melupa. Ketika hati mengingat, mata terluka. Ketika mata mengingat, tangan menyeka. Ketika tangan mengingat, kaki menendang. Ketika kaki mengingat, bibir menggunjing. Seterusnya seperti itu. Selalu ada penolakan dalam mengingat.
Aku terpaksa bergumul dengan pagi yang juga memiliki rasa sepertiku. Pagi bisa menyelimutiku, namun aku tidak bisa menyelimutimu dengan pagi. Karena biarlah aku yang tertular wabah pagi dan kamu jangan. Pada akhirnya, biarkan aku melihat matahari terbit di kedua bola matamu, tanpa ku lihat pagi bergulat dengan hatimu yang remuk rengsa.
Bandung, 13 Mei 2018
Puisi
0 komentar:
Posting Komentar