Dilematis; Mengenal Tuhan

Oleh: Mila . Azizah
            Hakikatnya manusia adalah Mahakarya Tuhan yang Maha Esa. Satu-satunya makhluk yang diberi kelebihan dan derajat tinggi. Setelah Allah SWT menciptakan alam semesta beserta isinya, babak baru kehidupan berjalan. Untuk meramaikan dunia yang saat itu masih dihuni oleh makhluk-makhluk yang derajatnya lebih rendah dari manusia, diciptakanlah Adam a.s tanpa melalui proses kelahiran sebagiamana manusia pada umumnya. Scenario Allah untuk meramaikan kehidupan muka bumi pun akhirnya sempurna dengan diturunkannya Adam dan Hawa, selanjutnya dikaruniai anak-anak kembar berbeda jenis kelamin. [The Science of Death].
            Dalam buku Tarikh Ibnu Jarir, disebutkan bahwa Hawa melahirkan 40 anak melalui 20 kali kehamilan. Dalam 20 kali kehamilan itu, Hawa selalu mengandung dua janin yang berbeda kelamin, laki-laki dan perempuan. Ada juga sejarawan yang berpendapat bahwa Hawa mengalami 120 kali kehamilan dan dikaruniai dua bayi kembar, laki-laki dan perempuan setiap kali melahirkan. Putra sulung Adam adalah Qabil, saudara kembarnya bernama Iqlima. Putra bungsunya adalah ‘Abdul Mugits, saudara kembarnya bernama Amatul Mugits. Ada sebuah pendapat yang menyatakan ketika Adam wafat ia memiliki keturunan sebanyak 400 ribu jiwa.
            Dari jaman ke jaman manusia mengalami perkembangan dan revolusi secara besar-besaran. Tak dapat dipungkiri, kini penduduk dunia mencapai milayaran, jumlah yang sangat fantastis. Dari milyaran manusia penduduk bumi ada berapa persen yang telah mengenal Tuhan? Di antara mereka pasti ada seseorang yang telah mengenal Tuhan lebih jauh, selain para Rasul dan sahabatnya. Mereka yang mengenal Tuhan sebagaimana Tuhan yang mereka yakini. Jika setiap individu memiliki keyakinan Tuhan yang berbeda, berarti ada milyaran Tuhan yang harus kita ketahui. Karena setiap kepala selalu berbeda.
            Indonesia, yang dikenal sebagai Negara Bhineka Tunggal Ika ini memiliki beberapa agama yang dianut warga negaranya. Sudah ada berapa Tuhan di Indonesia? Belum lagi tafsiran setiap individu mengenai Tuhan agamanya, pasti berbeda-beda. Dalam perspektif Islam, Tuhan adalah satu. Sesungguhnya (agama Tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku (Q.S Al-Anbiya:92), demikian firman Allah SWT.
            Mengenal Tuhan adalah tantangan tersulit dalam perjalan ruhani manusia. Sudahkah kita mengetahui Tuhan kita? Apakah benar Tuhan itu ghaib? Bagaimanakah kita menafsirkan Tuhan? Benarkah Tuhan itu abstrak? Berbicara tentang Tuhan, adalah berbicara tentang sejauh mana kita mengenal Tuhan.
            Perkenalan kita dengan Tuhan adalah tidak sepadan, ketika hanya Tuhan yang tahu segalanya tentang kita dan kita masih ragu untuk mengenal Tuhan. Sesuatu yang tidak seimbang. Tidakkah Tuhan sakit? Jawablah sendiri tentang hal ini.
            Ketika kita menyiasati dan menafsirkan Tuhan, tentang Tuhan yang menciptakan bumi dan segala isinya, tentang Tuhan yang menyusun dan menentukan takdir setiap insan, tentang Tuhan yang mengetahui segala sesuatu yang terjadi dan hal lainnya yang berada di benak kita tentang Tuhan. Tidakkah hal itu hanya sebagai pendapat atau pandangan semata? Apakah dengan penafsiran semua itu kita sudah bisa mengenal Tuhan? Jawabannya ada di hati masing-masing.
            Adakalanya kita mengingat masa lalu, saat kecil dan bertanya-tanya tentang Tuhan kepada orang tua kita dan kepada guru kita. Jawaban dari mulut mereka sangat tidak memuaskan, ketika bertanya Tuhan itu apa? Tuhan itu di mana? Bagaimana Tuhan itu? Karena jawaban mereka ‘nanti kamu tahu sendiri’, ‘Tuhan itu Allah’, ‘Tuhan adalah yang menciptakan bumi’, ‘Tuhan itu yang menciptakan kamu’, ‘pokoknya Tuhan itu ada’.
            Dan semua pernyataan itu masih membumi, yang menyebabkan keraguan dikalangan umat beragama. Terutama Islam. Sehingga, kita mengenal Tuhan sekedar mengungkapkan perkataan yang keluar dari mulut orang tua dan guru kita ketika kita masih belum mengerti tentang Tuhan. Karena waktu itu kita masih tak tahu, analoginya, orang buta yang diboyong oleh orang yang dapat melihat. Lalu orang yang dapat melihat itu menceritakan tentang keindahan alam yang berada di depannya. Orang buta tersebut mengangguk-angguk mengerti dan di sel-sel otaknya orang tersebut berimajinasi. Apalah bedanya, dengan kita yang saat itu masih buta dan mendengarkan cerita tentang Tuhan sekadarnya, lalu kita berimajinasi tentang Tuhan. Berarti selama ini yang kita tahu tentang Tuhan adalah imajinasi. Sudahkah kita mengenal Tuhan? Atau masihkah buta dan berimajinasi?

            Begitu pun dengan shalat. Shalat adalah cara bagaimana kita mengenal Tuhan, ketika kita sudah mengenal Tuhan, di dalam shalat itu kita hanya akan berdialog dengan Tuhan. Tanpa memikirkan hal-hal lain, tanpa mengingat hal-hal lain, tanpa mendengarkan hal-hal lain. Saat kita mengenal Tuhan, di sanalah kita mendapatkan kekhusyuan shalat yang sebenarnya. Tuhan itu tidak ghaib, Tuhan itu adalah zhahir. Cobalah untuk mengenal Tuhan lebih jauh. Dengan cara berdoa kepada Tuhan, untuk kita dengan-Nya saling mengenal. Jangan hanya Tuhan yang mengenal kita, kita pun harus mengenal Tuhan, agar tidak sia-sia berada di dalam ciptaan-Nya yang metamegah ini.

0 komentar:

Posting Komentar

My Instagram