Reading
Add Comment
Hakikatnya
manusia adalah Mahakarya Tuhan yang Maha Esa. Satu-satunya makhluk yang diberi
kelebihan dan derajat tinggi. Setelah Allah SWT menciptakan alam semesta
beserta isinya, babak baru kehidupan berjalan. Untuk meramaikan dunia yang saat
itu masih dihuni oleh makhluk-makhluk yang derajatnya lebih rendah dari
manusia, diciptakanlah Adam a.s tanpa melalui proses kelahiran sebagiamana
manusia pada umumnya. Scenario Allah untuk meramaikan kehidupan muka bumi pun
akhirnya sempurna dengan diturunkannya Adam dan Hawa, selanjutnya dikaruniai anak-anak
kembar berbeda jenis kelamin. [The Science of Death].
Dalam
buku Tarikh Ibnu Jarir, disebutkan
bahwa Hawa melahirkan 40 anak melalui 20 kali kehamilan. Dalam 20 kali
kehamilan itu, Hawa selalu mengandung dua janin yang berbeda kelamin, laki-laki
dan perempuan. Ada juga sejarawan yang berpendapat bahwa Hawa mengalami 120
kali kehamilan dan dikaruniai dua bayi kembar, laki-laki dan perempuan setiap
kali melahirkan. Putra sulung Adam adalah Qabil, saudara kembarnya bernama
Iqlima. Putra bungsunya adalah ‘Abdul Mugits, saudara kembarnya bernama Amatul
Mugits. Ada sebuah pendapat yang menyatakan ketika Adam wafat ia memiliki
keturunan sebanyak 400 ribu jiwa.
Dari
jaman ke jaman manusia mengalami perkembangan dan revolusi secara
besar-besaran. Tak dapat dipungkiri, kini penduduk dunia mencapai milayaran,
jumlah yang sangat fantastis. Dari milyaran manusia penduduk bumi ada berapa
persen yang telah mengenal Tuhan? Di antara mereka pasti ada seseorang yang
telah mengenal Tuhan lebih jauh, selain para Rasul dan sahabatnya. Mereka yang
mengenal Tuhan sebagaimana Tuhan yang mereka yakini. Jika setiap individu
memiliki keyakinan Tuhan yang berbeda, berarti ada milyaran Tuhan yang harus
kita ketahui. Karena setiap kepala selalu berbeda.
Indonesia,
yang dikenal sebagai Negara Bhineka Tunggal Ika ini memiliki beberapa agama
yang dianut warga negaranya. Sudah ada berapa Tuhan di Indonesia? Belum lagi
tafsiran setiap individu mengenai Tuhan agamanya, pasti berbeda-beda. Dalam perspektif
Islam, Tuhan adalah satu. Sesungguhnya (agama Tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang
satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku (Q.S Al-Anbiya:92),
demikian firman Allah SWT.
Mengenal Tuhan adalah tantangan tersulit dalam perjalan
ruhani manusia. Sudahkah kita mengetahui Tuhan kita? Apakah benar Tuhan itu
ghaib? Bagaimanakah kita menafsirkan Tuhan? Benarkah Tuhan itu abstrak? Berbicara
tentang Tuhan, adalah berbicara tentang sejauh mana kita mengenal Tuhan.
Perkenalan kita dengan Tuhan adalah tidak sepadan, ketika
hanya Tuhan yang tahu segalanya tentang kita dan kita masih ragu untuk mengenal
Tuhan. Sesuatu yang tidak seimbang. Tidakkah Tuhan sakit? Jawablah sendiri
tentang hal ini.
Ketika kita menyiasati dan menafsirkan Tuhan, tentang
Tuhan yang menciptakan bumi dan segala isinya, tentang Tuhan yang menyusun dan
menentukan takdir setiap insan, tentang Tuhan yang mengetahui segala sesuatu
yang terjadi dan hal lainnya yang berada di benak kita tentang Tuhan. Tidakkah hal
itu hanya sebagai pendapat atau pandangan semata? Apakah dengan penafsiran
semua itu kita sudah bisa mengenal Tuhan? Jawabannya ada di hati masing-masing.
Adakalanya kita mengingat masa lalu, saat kecil dan
bertanya-tanya tentang Tuhan kepada orang tua kita dan kepada guru kita. Jawaban
dari mulut mereka sangat tidak memuaskan, ketika bertanya Tuhan itu apa? Tuhan
itu di mana? Bagaimana Tuhan itu? Karena jawaban mereka ‘nanti kamu tahu
sendiri’, ‘Tuhan itu Allah’, ‘Tuhan adalah yang menciptakan bumi’, ‘Tuhan itu
yang menciptakan kamu’, ‘pokoknya Tuhan itu ada’.
Dan semua pernyataan itu masih membumi, yang menyebabkan
keraguan dikalangan umat beragama. Terutama Islam. Sehingga, kita mengenal
Tuhan sekedar mengungkapkan perkataan yang keluar dari mulut orang tua dan guru
kita ketika kita masih belum mengerti tentang Tuhan. Karena waktu itu kita
masih tak tahu, analoginya, orang buta yang diboyong oleh orang yang dapat
melihat. Lalu orang yang dapat melihat itu menceritakan tentang keindahan alam
yang berada di depannya. Orang buta tersebut mengangguk-angguk mengerti dan di
sel-sel otaknya orang tersebut berimajinasi. Apalah bedanya, dengan kita yang
saat itu masih buta dan mendengarkan cerita tentang Tuhan sekadarnya, lalu kita
berimajinasi tentang Tuhan. Berarti selama ini yang kita tahu tentang Tuhan
adalah imajinasi. Sudahkah kita mengenal Tuhan? Atau masihkah buta dan
berimajinasi?
Begitu pun dengan shalat. Shalat adalah cara bagaimana
kita mengenal Tuhan, ketika kita sudah mengenal Tuhan, di dalam shalat itu kita
hanya akan berdialog dengan Tuhan. Tanpa memikirkan hal-hal lain, tanpa
mengingat hal-hal lain, tanpa mendengarkan hal-hal lain. Saat kita mengenal
Tuhan, di sanalah kita mendapatkan kekhusyuan
shalat yang sebenarnya. Tuhan itu tidak ghaib, Tuhan itu adalah zhahir. Cobalah untuk mengenal Tuhan lebih
jauh. Dengan cara berdoa kepada Tuhan, untuk kita dengan-Nya saling mengenal. Jangan
hanya Tuhan yang mengenal kita, kita pun harus mengenal Tuhan, agar tidak
sia-sia berada di dalam ciptaan-Nya yang metamegah ini.
Opini
0 komentar:
Posting Komentar