Puisi Rina

Ilustrasi: (Dok.Net)

DI UJUNG JALAN

Hitam sudah pasti pekat
Putih sudah pasti bisu

Kamu sudah pasti menjauh
Aku sudah pasti menunggu

Dia sudah lama berlari
Dan kamu tidak lelah mengejarnya
Aku berlari di sampingmu

Di ujung jalan
Belum kamu temui juga dia
Hanya ada aku
Tapi, tak kamu temui pula

Dia
Dia yang ada di hatimu
Aku menyimpan kamu
Jauh lebih dalam

Di ujung jalan
Kamu kesepian
Aku kesepian
Padahal kita berdua di sana

***

KELUH

Kemarin kita saling bercerita
Tentang rindu
Terus
Semakin dalam
Dan mulai bercerita
Tentang kita

Tapi
Hanya pada intronya saja
Pertengah mulai jauh

Entah rindu tentang kita
Tak layak untuk kita ceritakan?
Ataukah salah jika kita pakai hati?

Bicara dan ceritakan
Biar si bodoh ini
Menanggung malu
Mengaharap dia
Yang sangat mencintai rindunya

***

AKU

Bukan baik bila melihatku
Banyak keangkuhan dan nilai buruk
Tapi lama, mentoleransi
Menjadi seperti itu
Biar tak muka dua
Tak munafik

Mungkin beda pandangan
Ya benci ya benci
Suka, lagi butuh

Dilema
Benar menurutku yang buruk
Salah menurut mereka yang baik

Serba salah
Diam sajalah
Dan lunasi tanggung jawab


Saat itu aku di kantin kampus, siang dan sangat panas. Aku duduk sembari membaca menu-menu yang terpampang di seluruh kantin. Bingung mau makan apa. Lalu Rina menyodorkan iPhone-nya kepadaku. “Mil, baca,” suruhnya. 

Dia menyodorkan sebuah puisi untuk ke sekian kalinya. Sekedar minta dibaca dan dipost di Dialektika Kata. Aku sangat senang sekali. Rupanya, Rina yang kata orang-orang mirip denganku, suka berpuisi juga. Meski kemarin, Rabu, aku dibantah keras oleh dosen karena di tugasku, aku menyertakan puisi. Padahal puisi itu merupakan karya filsuf, bahkan seorang filsuf Islam yang munurut pengamatanku ia lebih dan selalu pro kepada filsafat Islam. Dan, katanya aku gagal ditugasku. Oke, fine.

Aku saat itu sangat marah, amat sangat marah. Aku sempat membantah, tapi ia seperti itu, seperti yang kau tahu Rin. Meski aku tak ingin membahas ini lagi, tapi di hatiku ada percikan-percikan yang berkembang biak semacam amoeba, begitu cepat. Hingga aku merasakan kepedihan yang mendalam. 

Rin, terima kasih masih suka puisi. Puisi macam apa pun itu, menurutku bagus. Gak ada puisi yang jelek. Meski aku pernah beberapa kali dipandang sebelah mata oleh orang-orang sekitar, karena kerjaanku berpuisi melulu. Apakah kamu masih ingat, saat ia menyebutkan jangan menyertakan puisi, lalu orang-orang di kelas tertawa? Mudah-mudahan kamu tidak. Kalau pun iya, tak mengapa.

Puisi menurutku segalanya. Aku punya banyak puisi, semuanya berisi kesakitan, kedendaman, kesedihan, kerapuhan, kebahagiaan, kemarahan, dan segala apa yang indera aku rasakan. Ada di puisi-puisiku.

Okelah Rin, kamu pasti mengerti aku seperti apa saat itu, walau aku datar-datar saja, walau aku bersifat dingin terus, walau aku tak terlihat marah. Dan aku tersenyum terus kepadanya. Tapi aku tidak sedang berdramaturgi, aku menyadari semua itu, semuanya hanyalah ketololanku saja, kegobloganku saja, kebodohanku saja, dan aku mengerti orang-orang sekitar pernah memendam pertanyaan konyol kepadanya dan kepadaku juga. Yang penting aku telah berani menunjukan ketololanku itu. Mungkin, baru kali ini kamu melihat seseorang sepertiku, yang tolol menelanjangi dirinya sendiri di depan banyak orang. Saat SMA aku lebih sering. Bahkan, ada guru yang menyentuh kepalaku dengan jari telunjuknya yang ketje

Kita kembali ke puisi lagi. Puisi Rina sangat renyah walau aku tahu semuanya adalah curhat, jadi aku sudah mengerti ke arah mana alur puisi-puisi Rina. Terkadang Rina selalu menggerutu, Mil urang teu nyaho ieu judulna naon? (Aku nggak tahu ini judulnya apa?), aku juga suka gitu, suka bingung mikirin judul. Padahal, judul bagiku semacam cangkang makanan ringan, kalau bagus ya aku beli.

Aku memang sering nulis puisi, tapi pengetahuanku tentang dunia kepuisian belum aku dalami betul. Jadi aku belum bisa ngekritik puisi-puisi Rina habis-habisan, karena nanti aku ditertawai lagi. Sorry, kalau aku malah curhat. Puisi-puisimu bagus Rin, tinggal rajin nulis sama baca, nanti ketahuan sendiri diksi yang seperti apa yang harus dipakai, judul yang seperti apa yang harus dipampang. Segala sesuatu pasti bertahap.

2 komentar

My Instagram