Reading
Add Comment
![]() |
| Ilustrasi: (Dok.Net) |
Siang ini. Aku menemui kata yang tak terucap, sebuah edisi rindu di siang itu, yang ia sembunyikan di balik jaket belelnya. Padahal di dalam hatinya ia edan-edanan menertawakan dirinya sendiri dalam setiap teriakan nama seorang perempuan. Semacam purwakanti dalam sajak.
Di dalam pikirannya ia pongah, ia meng-akbar-kan sebuah mimpi. Tapi di siang itu ia mengibuli dirinya sendiri dengan kabar yang menyedihkan. Sangat sedih. Hingga semak-semak beserta teman-temannya menjadi layu di bawah terik matahari siang ini. Tempat duduknya hancur menjadi bongkahan-bongkahan kecil yang rapuh. Kicauan burung terdengar seperih sebuah tangisan.
Kabar siang ini, bayang-bayang mentari menghasut denyut desir getah tanah yang empuk. Lalu bayang-bayang itu menggali kuburan, namun tak kunjung dalam.
Ia yang edan itu berkata, biarlah aku sendiri yang menggalinya dan aku akan menyuruh angin itu untuk menguburku, meski membutuhkan waktu yang lama. Diamlah! Kau hanya perlu menangisiku saja.
Bandung, April 2016
Puisi
0 komentar:
Posting Komentar