Reading
Add Comment
![]() |
| Ilustrasi: (Dok.Net) |
Oleh: Restu Nugraha Sauqi
Jika teman-temanku selalu bilang bahwa 'posisi menentukan prestasi'.
Bagiku, posisi tersebut diartikan letak kehadiran absen. Yah, kehadiran awal dan kehadiran akhir absensi.
Aku mengartikan posisi kehadiran awal berfungsi sebagai perkenalan. Sementara kehadiran akhir selain berfungsi 'perpisahan' dengan dosen,
juga dipakai untuk menandatangani absen yang belum terisi dan
mempelajari beberapa kisi-kisi.
Kehadarin dipertemuan akhir
adalah kunci. Begitulah keyakinanku. Sebagai pria yang berpegang teguh
pada sebuah keyakinan itu, Minggu ini adalah pertemuan terakhir
matakuliah Videografi. Aku mesti menghadiri matakuliah itu.
Bagiku belajar di dalam kelas adalah suatu hal paling membosankan,
Itulah alasan aku memilih hanya hadir pada pertemuan awal dan akhir
saja. Belajar di dalam kelas sama seperti di penjara, kita hanya
dijejali kata-kata tanpa realitas nyata. Temanku kuliah di jurusan
akuntansi, terpaksa memilih berhenti karena setiap hari disuruh
menghitung uang ratusan juta, tapi tak nyata, hanya dalam bentuk
angka-angka belaka.
***
"Di pertemuan terakhir ini, bapak
tidak akan membahas yang berhubungan dengan mata kuliah kita" tidak
begitu jelas suara dosen menjelaskan.
Mungkin, karena aku tidak
begitu tertarik dengan penjelasannya. Aku lebih fokus memandangi Zula,
perempuan tercantik di kelasku. Bagiku dialah yang mengalihkan pandangan
mata dari pesona-pesona buta, membuat terbata tatkala lidah berusaha
menyapa dan merubah canda menjadi sebuah cerita. Yah, kaulah Nuzula.
"Bapak hanya ingin kalian mengomentari tentang pemberitaan akhir-akhir
ini. Kalian tahu berita paling hangat di media tentang apa?" Dosenku
bertanya kepada seluruh mahasiswanya.
"Tentang kekerasan seksual Pak" Ranto menjawab paling lantang
"Yah, berita itu" dosenku mengamini. "Bapak mau kalian acungkan tangan lalu mengomentari hal tersebut"
Aku tak mau tergoda oleh tawaran dosen itu. Aku memilih diam, meski aku
tahu betul masalah itu dari hasil kebiasaanku membaca koran. Mulai dari
akar persoalan, hingga solusi paling kongkrit pencegahannya. "Aku
berharap dosen itu cepat membagikan daftar hadir, agar aku dapat dengan
segera keluar dari kelas ini" tuturku dalam hati
Satu persatu
temanku mengacungkan tangannya, komentarnya bervariasi, mulai dari
jawaban menggunakan perspektif agama, hukum dan norma hingga menggunakan
metode 'asbun' (asal bunyi). Jawaban mereka tak ada yang membuatku
tertarik. Hingga tiba giliran Zula, sang selebriti dikelasku
mengacungkan tangannya
"Iya silahkan Zula, apa komentarmu" dosen mempersilahkan
"Jadi begini pak, karena ini adalah komentar terhadap pemberitaan
media. Saya akan bagi komentar saya pada dua hal, pertama penyebab,
kedua solusi" Zula memulai komentarnya. "Kekerasan seksual adalah satu
contoh dari sekian banyak fenomena turbulensi etik di negeri ini.
Korupsi, eksploitasi alam berlebihan, induvidualistik dan narsisme pun
ikut menambah list dalam daftar jenis dekadensi moral di negeri ini "
Aku terus fokus pada penjelasannya, cara menyampaikan dan tata
bahasa yang digunakan Zula bagaikan seduhan kopi yang membuat
penikmatnya tetap terjaga, sementara kecantikan wajahnya adalah gelas
yang mengabadikan aromanya. Keduanya tak mungkin bisa dilepaskan.
Zula berpendapat bahwa penyebab kekerasan seksual terjadi karena adanya
pra-kondisi serta gagasan yang menuntunnya. Pra-kondisi dan gagasan
tersebut dibentuk karena 'realitas visual' dan melemahnya pendidikan
etik yang ditandai dengan maraknya penggunaan media sosial, televisi dan
internet tetapi tak dibarengi dengan pendidikan luhur tentang
keagamaan, terbukti dengan sepinya pengunjung madrasah dan pengajian
rutin.
"Maka tak ayal, media massa online cetak dan elektronik
menjadi satu-satunya guru pembimbing kebenaran untuk mereka" tutur Zula
menjelaskan
Pada ranah solusi, Zula menyarankan untuk kembali
berpegang pada nilai-nilai luhur yang terkandung pada agama, yang hari
ini mulai tergantikan oleh orientasi materil dan pragmatis.
"Mengaktualisasikan 'solusi tersebut' adalah tugas kita bersama". Zula
menengok kearahku. Tatapan tersebut seolah sebuah isyarat bahwa tugas
tersebut adalah tugas untukku juga
"Kita adalah mahasiswa
jurnalistik, yang kelak akan berprofesi sebagai penulis dan mengabarkan
berbagi informasi. kabarkanlah kebenaran dengan santun, tanpa
memprovokasi, lenyapkan paradigma Good News Is Bad New" begitulah
komentar terakhir Zula.
Dari penjelasan Zula tadi, aku seperti
seorang mahasiswa yang sedang diajari tentang matakuliah sosiologi.
Membahas tentang fenomena perubahaan sosial suatu masyarakat. Aku
terpaku dan khidmat mendengarkan setiap penjelasan dosen itu. Yah, dosen
itu bernama Zula
*Penulis adalah Mahasiswa Jurnalistik Mantan Loper Koran di Pemda Bandung Barat
Cerpen
0 komentar:
Posting Komentar