Pesolek dan Ahlul Hijab

Ilustrasi: (Dok.Net)

Untuk: Aghnia Ilma
Siang itu, hujan. Lalu, aku berteduh di bangunan terkecil di kampus ini, masjid Iqomah. Menatap rintik hujan yang berjatuhan, lalu meriaklah di sungai-sungai kecil paving block yang berjajar rapi. Seolah bersenandung di atas langit Bandung yang meronta dan awan-awan yang merongga, di antara fragmen-fragmen lindur. Lantas, kurogoh saku jaketku dan mengeluarkan henfon, sekedar ingin tahu kabar dunia maya. Aku bersandar di salah satu beton yang menghadap kiblat. Dan sendirilah menyiasati perempuan. Lalu membaca sebuah puisi dari Aghnia Ilma di sebuah grup sastra di Facebook. Puisinya adalah sebagai berikut.

Wanita..
Ia membangun sekaligus menghancurkan..
Ia terlahir  mulia tapi tak sedikit tumbuh menjadi hina..
Ia penopang tapi juga jadi penghalang..
Ia kokoh seringkali ia roboh..
Wanita..
Yang tak pernah habis diukir kata dan airmata..


Bandung, qiyamullail. 2 Juni 2016

***
Dari itu semua aku langsung kepikiran tentang wanita atau perempuan. Memang secara etimologi wanita dan perempuan itu jenis kelaminnya sama tapi berbeda makna. Dari puisi itu aku langsung menerawang tentang perempuan, si makhluk yang membuat Majnun tergila-gila, sampai gila beneran.
***
Berbicara tentang perempuan tidak akan pernah tuntas, meski dibarengi dengan bergelas-gelas kopi. Aku menyiasati puisiku yang berjudul Diana, perempuan yang alisnya tebal, pipinya merah, dan bibirnya berwarna merah pekat, karena dandannya yang sedang jaya saat ini, banyak lelaki yang menyebutnya cantik. 

Apalagi dalam Perpustakaan Kelamin (Sanghyang Mughni Pancaniti) dituliskan tentang mitos kecantikan, aku sempat mengamini juga, bahwa pabrik-pabrik kosmetik di luar sana sedang menertawakan perempuan, karena pengusaha-pengusaha berhasil mendapatkan uang dari embel-embel bahwa, cantik itu putih, cantik itu langsing, cantik itu ini cantik itu itu. Ah, mengharukan. Tetapi apakah karena Tuhan telah memberikan naluri kepada perempuan untuk doyan dandan? Menurutku tidak. Tidak sama sekali.

Dan tak sedikit lelaki yang mendambakan perempuan untuk tetap cantik. Padahal cantik seperti itu menyakitkan. Bayangkan saja, perempuan harus sakit ketika wajahnya harus dipoles, ketika bulu matanya harus dilentikkan, ketika harus memakai sepatu yang melecetkan kaki, ketika waktu banyak terbuang untuk berdandan, ketika uang habis karena membeli kosmetik, dan ketika banyak yang harus dikorbankan dalam dirinya, yaitu menutupi kekurangan dengan uang. Ah, pokoknya banyak sekali.

Tak mau kalah, perempuan-perempuan berhijab saat ini banyak mengusung tutorial make-up yang ditayangkan di media sosial, tutorial hijab anu pabeulit tea, hijab syar'i yang terkesan mewah dan mahal, lalu dipotret di dalam mobil, di restaurant, di mall-mall, di bioskop, dan di tempat-tempat kece ukuran zaman ini. Sebeginikah cantik itu Tuhan? Sebeginikah cantik itu kawan? Sebeginikah cantik itu tuan?

Berbicara tentang pesolek dan ahlul hijab, pastinya tidak pernah terlepas dari produk-produk media yang ada. Hegemoni media begitu memamah pada pola pikir masyarakat kita. Bahkan untuk meyakinkan suatu persoalan kita harus gugling. 

Saat ini kontes-kontes hijab semarak di mana-mana, perempuan berhijab berlenggak-lenggok di atas panggung, suaranya dilengkingkan menuju oktaf-oktaf yang tinggi, berkompetisi untuk memenangkan hati juri. Ah, begitu rupawan dunia ini.

Jadinya pembullyan memang selalu berjaya secara masif. Ketika perempuan yang cantik itu adalah yang seperti itu, lantas perempuan yang tampil tanpa dandan, tanpa parfum, tanpa selfie di tempat-tempat mewah, tanpa bakat, tanpa apa pun (yang bisa membuat perempuan cantik) pernah bahkan selalu terperangah dengan beberapa pertanyaan, aku yang seperti ini bisa apa?, tidak sedikit perempuan yang cenderung memaksakan diri hanya untuk dibilang cantik, dan tampil rupawan.

Tetapi, kita jangan terlalu geram kepada perempuan-perempuan cantik. Entah itu cantik dari dalam atau dari luarnya saja, dan atau cantik keduanya. Kita jangan terlalu geram kepada lelaki yang mengatakan perempuan cantik itu seperti itu. Selagi pengetahuan tentang fiqh dan akhlak mumpuni dalam diri, biarlah mereka menjadi mereka, biarlah kita menjadi kita. Meski terkadang disela-sela dunia kita pernah sama-sama didiskriminasi karena ternyata yang cantik adalah yang mudah diingat, dikenal oleh guru, dosen, lelaki, dan orang-orang sekitar. Tak mengapa, zikir lebih mudah untuk dikenal Tuhan. Tuhan tidak pernah mendiskriminasi.

Biarlah, kecantikan itu menjadi mulia di mata Tuhan, biarlah orang-orang berpersepsi tentang kecantikan yang kece di zaman ini. Biarlah persepsi cantik kita serahkan kepada yang punya mata, biarlah yang punya mata memiliki persepsi tentang cantik berdasarkan pada hati dan akal. Biarlah orang-orang dilema tentang kecantikan perempuan dan kecantikan Aghnia. Karena yang terpenting kita semua masih menghirup udara dan selalu perbaiki diri dalam tingkah dan doa.
***
Lalu tak terasa, hujan sudah reda, kumandang azan ashar menggema. Kemudian aku melihat mahasiswi-mahasiswi cantik berseliweran usai membasahi mukanya dengan wudhu. Tapi aku belum bangkit juga dari sandaran beton masjid ini. Ahhh, aku menggeliat, menanti jam lima agar bisa menghadap Tuhan tanpa tergesa.

Dari M, hadiah untukmu. 2016

0 komentar:

Posting Komentar

My Instagram