Biasa Saja

Ilustrasi: Dok.Net

Setiap saat menjumpai hari, hatiku takut seakan yaumuljaza beberapa detik lagi akan tiba. Bulan malam ini memerosotkan sepiku, kebisuan bibirku dirobeknya.

Aku tidak akan lekas pergi dari kepribadian yang melankolis ini. Tetapi apa yang salah ketika banyak hari aku berganti lelaki? Mereka semua adalah penghangat puisiku tatkala ketakutan itu mengantarku pada kertas-kertas yang buta huruf. Biasa saja. 

Lalu setelah itu selalu ada kecemburuan dari faring-faring aksara, padahal aku bisa menjaga hatiku, aku perempuan! Tidak haus lelaki, tidak haus perhatian. Semua ini adalah titah Tuhan, agar aku bisa menjinakkan nafsuku dengan iman.

Biasa saja, sebagaimana bulan ditemani bintang-bintang. Bukan bulan ditemani bulan. Ini adalah puisi sampah seperti apa yang dikata orang. Biasa saja, wajahku seakan-akan merosot sebelah karena aku tidak mudah lupa pada arah.

Biasa saja. Fokus utama di otakku tidak melulu tentang berahi. Aku tidak tergiur.

2016

0 komentar:

Posting Komentar

My Instagram