Reading
Add Comment
![]() |
| Ilustrasi: dok.net |
Pada yang demikian Tuhan membalas semua perbutan yang telah manusia lakukan selama hidupnya. Kepada dirinya, kepada orang lain, kepada bumi, kepada makhluk-makhluk lainnya, dan kepada Tuhannya sendiri.
Bayangkan saja dikala itu kiamat tiba-tiba saja terjadi, kematian massal akan menimpa kita. Kita berlari tunggang-langgang mencari teman, mencari pegangan tangan. Tapi semuanya hilang, mereka menjadi pribadi yang sangat egois dan individualis. Sedangkan bumi dengan cepat sudah lenyap, lantas apa bekal kita sudah mapan?
Yang terjadi di dunia ini kita selalu tak peduli. Di mana asap di mana api. Semuanya hanya pergunjingan nurani. Apa kabar kita nanti tatkala hari itu tiba? Masihkah memikirkan lelaki-lelaki yang engkau harapkan? Masihkah memikirkan perempuan-perempuan tak berkutang?
Siapa sangka Tuhan telah menciptakan sebuah rumah yang terbuat dari awan atau sebuah kamar yang terbuat dari bara api. Kita tersenyum atau kita terpanggang. Akankah nanti kita saling menyapa? Atau bahkan saling mengacuhkan dan tidak peduli satu sama lain. Di sana kita menjadi egois, memikirkan dosa, memikirkan amal perbuatan. Di sana kita lupa keluarga, sahabat, istri, anak, pacar, mantan, gebetan, dan bahkan hewan peliharaan.
Sudahkah kita memikirkan sebarapa banyak waktu kita hilang begitu saja. Melakukan ini-itu tanpa ibadah, tanpa ingat Tuhan kita siapa, tanpa tawassul dan wiridan. Lalu apakah ini ritual hidup kita, hanya insyaf yang sia-sia yang terpenting adalah update kepopuleran kita. Berharap ratusan like menimpa.
Yaumuljaza adalah hari yang paling aku takutkan, apakah amalanku pantas menginjaki megahnya surga atau bahkan sebaliknya? Menjadi penghuni neraka dengan tusukan-tusukan pisau di mata.
2016
0 komentar:
Posting Komentar