Sinting

ilustrasi: dok.net


Untuk pembaca setiaku, yang mau-maunya baca blog puisi ini.
Kamu gak ada kerjaan.

_____________________________________________________

Pasukan malam datang tunggang-langgang, berlari-lari sambil membawa kuda jantan. Semua orang mempertanyakan aku mengapa, tentang bibirku yang tidak berhenti berkicau, berbicara terus sendirian. Di antara hidangan-hidangan puisi malam itu, aku lebih memilih menelanjangi diriku sendiri di hadapan yang lain. Berbicara kesana-kemari.

Aku mencium aroma rindu, aroma benci, aroma aneh, aroma tawa, dan bahkan aroma yang belum diketahui namanya. Aku terbiasa berintuisi, bahkan dengan sebuah pena sekali pun. Aku sedang tidak pura-pura. Ini nyata bung! Atau mungkin di kejauhan, aku tahu engkau sedang apa, meski menerka-nerka.

Bintang-bintang terhembus angin, tubuhnya yang ramping, mudah goyah, mudah berpindah tempat. Lalu aku bersembunyi lagi di tengah-tengah kerongkongan diriku sendiri. Bersandar di dindingnya, kemudian mempertanyakan semua ini kepada Tuhan. 
"Tuhan, apakah aku perlu membusungkan dadaku dan membiarkan dia menyusu kepadaku?,"
"Tuhan, apakah aku harus menyimpan busa yang tebal di bahuku, untuk sandarannya?,"
Aku menjadi sinting karena ini.

Tapi lagi-lagi aku selalu benci tentang bagaimana aku harus bersikap melawan ini dengan tenang. Dari pertama aku mengenal cinta, aku selalu malas, karena orang-orang tidak selalu mengerti apa yang aku pikirkan. Apakah dengan aku mengatakan 'hai' kepadanya dia begitu saja ingin menjalin kasih denganku? Atau sebaliknya, ketika kata 'hai' itu terlontar kepadaku, lalu aku ingin langsung berumah tangga dengannya? Oh hey, aku benci ini, intuisimu selalu salah.

Barangkali tubuhku telah ada di tulang rusuk yang lain, maka aku kasihan kepadanya, kepada 'yang lain' itu, jika aku terus-terusan egois memikirkan atau mencoba melawan pada sesuatu yang salah, dan sesuatu yang membuang waktuku seharian. Tiada arti.

Maka aku sangat benci kondisi ini, di mana aku harus memakasakan diri untuk meladeni ini-itu. Tuhan selalu sudilah berada di setiap napasku. Aku selalu percaya, Maha Tahu-Mu membenci aku berada di sebuah ranah yang paling tidak ingin aku bergelut di dalamnya.

2016
Hatiku sedang anjing-anjingnya

0 komentar:

Posting Komentar

My Instagram